Harapan itu masih ada

“Masih banyak orang baik yang ingin berbuat baik di
Indonesia ini”
– Hikmat Hardono

Advertisements

Cita-citaku adalah menjadi seorang pilot, dan aku masinis

* Photo credit: Pratiwi Astriasari, fotografer kelompok 15

Hari inspirasi

Reno (kanan) adalah siswa kelas 3 SDN Manggarai 13 pagi. Dia adalah anak yang periang, tergambar dari wajahnya yang sangat murah senyum. Diapun tak terlalu malu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang para guru “sehari” tanyakan. Ketika di akhir kelas semua siswa menuliskan cita-citanya di sebuah bintang, dia menulis cita-citaku pilot.

Itulah gambaran dari para siswa SDN Manggarai 13 hari itu, Rabu 9 September 2015. Hari Inspirasi. Kami, para pekerja profesional, bertugas untuk menjadi guru sehari bagi mereka. Tugas kami bukanlah untuk mengajarkan pelajaran-pelajaran wajib tapi untuk mengajak mereka bersenang-senang dan berbagi wawasan sambil mengenalkan profesi kami dan menumbuhkan semangat mereka untuk meraih cita-cita. Continue reading “Harapan itu masih ada”

Riuh Rendah di Istora

 

Minggu lalu, sehari sebelum perayaan kemerdekaan, Indonesia raya berkumandang di Istora Senayan, Jakarta. Hendra Setiawan dan Muhammad Ahsan dinobatkan sebagai juara dunia untuk ke dua kalinya setelah tahun 2013 di Guangzhou, Tiongkok. Terus terang itu adalah kali pertama saya melihat sang merah putih di kibarkan di arena olah raga diiringi lagu Indonesia Raya. Haru dan bangga mendominasi Istora malam itu.

Kalau melihat sejarah, Indonesia merupakan sebuah kekuatan besar di olahraga bulu tangkis selain Tiongkok, Korea, Denmark, Malaysia. Saya masih ingat waktu saya masih duduk di bangku SD dan masih (sedikit banyak) ingusan, jalanan kampung menjadi ramai oleh anak-anak yang bermain bulu tangkis ketika ada turnamen-turnamen besar sedang berlangsung semisal Thomas-Uber Cup, All England ataupun Indonesia Open. Saat itu turnamen-turnamen tersebut masih sering di tayangkan di televisi nasional dan menjadi salah satu tontonan favorit keluarga di kampung, waktu itu.

Continue reading “Riuh Rendah di Istora”

Jakarta, oh Jakarta

Saya takut hidup di Jakarta, beberapa waktu terakhir tulisan ini menjadi topik hangat di berbagai social media dan banyak pula tanggapan tentang tulisan ini dan kebanyakan menyatakan hal yang senada dengan pengalaman @budiman_hakim sang penulis. Nah, pernah dengar ungkapan Ibu kota lebih kejam daripada ibu tiri? Bisa jadi itu benar adanya melihat dari tulisan itu.

godbye jakarta
godbye jakarta by novaldiflickr, on Flickr

Mungkin ada juga yang berkata what doesn’t kill you makes you stronger, dan merasa kehidupan keras di Jakarta akan membuat seseorang semakin tough, tidak cengeng dan survive. Benar, tidak salah memang tapi ini #SalahKonsep menurutku. Untuk survive seseorang itu butuh adaptasi dan kebanyakan adaptasi itu adalah mengikuti aturan yang ada. Lo nyikut gue sikut, lo nendang gue tendang.

Continue reading “Jakarta, oh Jakarta”

Wedding Frenzy

Many things happened in these past months, going here and there, massive extra workload, had a chance to hang out once again with the members of narsiiser jakartanensis, another try to step up against the world and conquer my realm of dreams, and a glimpse of a not-so-well-told cliche story just like everybody has. And for that I know (and feel gonna be) is that this first half of the year will be bloody busy.

Aside from all that stuff, what make this first half of the year looks amazing is when I list down my friends wedding party and found that almost in every month there will be a friend or two who will take their life to the next level: marriage, and most of them are my college mates, but its really a shame that I can’t visit them in their happiness moment, yeah I do wish I have Doraemon’s door or Son Go Ku’s teleport skill right now, it will solve the space and time problem for good.

Along the Road
Along the Road by aryo_kn at flickr

This wedding frenzy started in the early of february. At 5th, Sofian & Rani held their wedding ceremony at Rangkas Bitung, Banten. They were once a high school friend and turned out to be a bride and bridegroom. Next, At february 18th, one of our dearest friends, Husnul, also held his wedding party at Kediri, the town where he gone to high school (he is Lamonganese just so you know) and you may guest it right that he also married to his high school friend, finally he moved on. Continue reading “Wedding Frenzy”

me vs US visa …

suara dering telefon kantor berbunyi, lampu led merah digagangnya berkelip-kelip, tertulis nama seseorang disana, pm (project manager).

me: hello??
pm: nauval, do you have family here?
me: hmmm .. i have a cousin here, if that is what you ask for.
pm: oh not that, what i mean is do you married?
me: oww .. no i’m still single, why? (mulai bertanya-tanya)
pm: do you mind to travel to US?
me: no, i dont, i’m ok with that.
pm: ok. i want you to find out how to apply a US visa and how long the process will be.
me: ok.

begitulah awal mula dimulainya perjalanan dan perjuangan saya dalam mendapatkan yang katanya visa paling susah didapat di seluruh dunia, visa US. oh ya bagi anda yang masih bingung dengan apa sih visa itu sebenarnya, silahkan lihat wikipedia. visa adalah sebuah dokumen yang menunjukkan seseorang diperbolehkan masuk ke negara yang mengeluarkan visa tersebut. namun ada beberapa negara yang bagi kita (wni) bisa masuki tanpa memerlukan visa, list negara-negara tersebut bisa dilihat di sini. visa US disebut paling susah karena memang paling ribet dalam hal pengurusannya, salah satunya adalah dengan menghadiri interview di kedutaan/konjen US. kalau dibandingkan dengan negara lain, China dan Jepang misalnya, kita tidak perlu pergi ke kedutaan untuk interview visa, hanya perlu mengirimkan dokumen yang diminta ke kedubes negara yang bersangkutan kemudian tinggal menunggu beberapa hari, voala, visa sudah di tangan.

visa
US visa

setelah bertanya kesana-kesini akhirnya saya memulai langkah pertama untuk meng-apply US visa yaitu baca how to apply visa page yang ada di web kedutaan US. di laman tersebut sebenarnya sudah cukup informasi mengenai tata cara pengajuan permohonan visa dari pertama sampai terakhir, mulai dari pengisian formulir online sampai pengambilan visa, termasuk dokumen-dokumen umum yang perlu disiapkan untuk prosesnya. namun sebagai bahan tamabahan saya juga membaca pengalaman-pengalaman orang lain yang mereka tulis di blog, and believe me thats helped me a lot. keseluruhan proses ini sebenarnya bisa dibagi dalam 4 tahap :

  • persiapan
  • mengisi formulir aplikasi online
  • interview
  • pengambilan visa

Continue reading “me vs US visa …”

memang beda ya …

Baru kali ini saya merasakan perbedaan budaya yang benar-benar terasa. Budaya ini bukan budaya kota Jakarta yang beda dari budaya Surabaya, tapi budaya yang ada di setiap kantor yang ada disini.  Dari budaya kantor yang bersifat kekeluargaan masuk ke kantor yang budayanya sangat dingin, bukan dingin-nya es loh, u know what i mean kan?.

Dan budaya akan sangat berpengaruh pada kinerja, jika sebuah perusahaan mempunyai budaya yang kondusif maka secara otomatis kinerja karyawan akan positif dan ujung-ujungnya akan meningkatkan revenue dari perusahaan, nah jika budaya yang dibangun dan dikembangkan “tidak sehat” hasilnya ya  sebaliknya, terjadi persaingan yang tidak sehat, komunikasi antar individu tidak lancar, teamwork kurang, turn over karyawan tinggi yang ujung-ujungnya juga menyebakan kinerja perusahaan juga terjadi akselerasi negatif, dan kayaknya ini banyak buktinya.

Nah terus gimana dong kalo lingkungan kerja kita punya budaya yang menurut kita “kurang” kondusif. Hmmm … menurut saya ada 3 opsi menurut saya dalam menghadapi masalah semacam ini:

  • Opsi satu, mencoba membuat perubahan, kalau anda merasa tidak nyaman dengan kondisi budaya lingkungan anda, maka tak ada salahnya kan jika anda berusaha merubah lingkungan anda menjadi lebih baik bagi anda dan orang-orang disekitar anda. Perubahan ini tidak melulu perubahan yang drastis dan massive, namun bisa dimulai dari beberapa perubahan-perubahan kecil yang dimulai dari diri anda.
  • Opsi dua, ya … pertahankan status quo, let it the way it it is, kalau anda emang nyaman dengan keadaan lingkungan anda sekarang.
  • Opsi tiga, jika anda tidak punya kekuatan untuk memulai perubahan namun anda tidak tahan dengan status quo, maka lebih baik anda mencari linkungan baru yang sesuai dengan anda.

Bagaimana dengan anda?

Pilih opsi mana? ataukah punya opsi yang lain?