Ketika Passion Bertemu Realita

Passion, sebuah kata yang terlalu dilebihkan?

Advertisements

Passion, kata yang berberapa tahun terakhir ini cukuplah sering kita dengar —Follow your passion. Saya yakin anda semua tahu makna passion disini, sebuah ikatan emosi atau antusiasme yang intens terhadap sesuatu. Sering juga kita melihat ada seseorang pengusaha sukses ketika diwawancara dia bilang kuncinya adalah passion. Ia seperti menjadi sebuah kata ajaib yang menjadi kunci semuanya, mungkin memang itu adanya.

Ingatan saya kembali ke beberapa tahun lalu (lima tahun mungkin) ketika teman menyodorkan buku Your Job Is Not Your Career-nya Rene. “Habis baca buku ini, rasanya pengen resign aja” ungkap teman saya itu. Memang pada masa itu, bagi kami para engineer labil, adalah masa dimana kami mempertanyakan tentang jati diri, profesionalitas, tantangan dan terutama masa depan. Saat itu memang banyak diantara kami yang pindah dari perusahaan, sehingga membuat kami-kami yang tertinggal mingkat intensitas ke-labil-annya.

Salah satu highlight dari buku itu adalah “Follow your passion“. Sejak saat itu saya mulai bertanya apa sih passion saya? Apa sih yang membuat saya rela meluangkan sebagian (1/3, mungkin lebih) waktu saya setiap hari tapi tanpa membuat saya merasa bosan? Kalau dilihat secara kasat mata, apa yang saya lakukan dulu dan sekarang tak jauh berbeda. Saya seorang programmer, saya membuat program komputer untuk digunakan para user. Namun terus terang, dulu saya sempat merasa bosan dengan dunia pemrograman. Sayapun mencari lagi passion saya ini apa sebenarnya. Saya suka fotografi, saya lumayan sering hunting foto, apakah itu passion? Saya suka merakit plastic model, apakah itu juga passion?

Setelah selang beberapa tahun, akhirnya saya mulai merasa bahwa konsistensi (istiqomah) itu lebih berguna daripada sekedar passion. Saya tak bilang passion itu tidak penting apalagi khayalan. Namun, seringkali kata itu menjadi terlalu abstrak sehingga tidak bisa diterjemahkan ke dalam ruang-ruang realita. Tidak semua orang mempunyai privilege menemukan passion mereka, banyak pula yang menjadi bingung akan pilihan-pilihannya lalu tidak fokus. Dilain pihak, konsistensi itu niscaya akan membawa hasil dengan atau tanpa passion. Dan untungnya, sering kali keberhasilan itu menjadi sumber awal dari apa yang biasa kita sebut passion.

Sometimes passion is simply a by-product of knowing you will be good at something. Energy is good. Passion is bullshit. — Scott Adams, the creator of Dilbert.

Menurut saya, cara yang paling pragmatis dalam mencari passion adalah dengan mulai mencintai apa yang kita kerjakan sekarang. Seperti pepatah jawa bilang “witing tresno jalaran soko kulino“, cinta itu ada karena terbiasa. Kita harus mulai nrimo dengan apa yang kita punya dan mulai mencintainya. Kita harus mencoba melihat lebih dekat dan menggali lebih dalam. Bisa jadi kita tidak suka pekerjaan kita karena kita tidak tahu artinya, kita hanya menganggap itu sebagai rutinitas tanpa tahu gambar besarnya seperti apa dan kita seringkali acuh terhadap dampak dari apa yang kita kerjakan terhadap orang lain. Mungkin dari situ kita mulai bisa mengapresiasi apa yang kita lakukan sehingga memunculkan konsistensi yang berujung pada passion.

Lalu, apa tolok ukur kita sudah menemukan passion kita? Bagi saya, jika kita bisa dan sanggup meluangkan segenap daya dan upaya dalam melakukan sesuatu dan diakhir hari kita bisa tersenyum melihat hasilnya, maka kita sudah menemukannya.

[credit]

Foto diambil dari flickr.com/novaldiflickr

6 thoughts on “Ketika Passion Bertemu Realita”

    1. Iya ci, kepikiran twit itu juga pas nulis. Silver lining nya ttp butuh konsistensi untuk menjalankan hobi itu sampai taraf good enough for people to pay 🙂 dan banyak yang menyerah di prosesnya hehe

  1. sama ihh.. aku jg suka mikir begini yg soal konsistensi, terlebih lg seiring bertambahnya usia… hahahaha!
    nemuin apa yg kita suka itu gampang, tapi fokus dan konsisten itu lain cerita.

    1. Kita kan masih muda san 😀

      Iya, menjaga konsistensi itu memang sebuah tantangan. Seperti kata Malcolm Gladwell di Outliers, untuk mencapai tahap ahli paling tidak diperlukan waktu 10k jam terbang di apapun bidangnya (normalnya). Tanpa konsistensi itu tak akan bisa.

  2. “Tidak semua orang mempunyai privilege menemukan passion mereka, banyak pula yang menjadi bingung akan pilihan-pilihannya lalu tidak fokus.”

    Bener banget ini.
    I’m very passionate about drawing, but I’m not consistent enough to make money out of it.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s